Dulu, ia kerap terlelap di tengah kebisingan sekolah. Malam yang terlalu larut membuat tubuh kecilnya mencari waktu istirahat di siang hari. Bukan karena enggan belajar, melainkan karena tubuhnya belum menemukan ritme yang seimbang.
Perlahan, perubahan mulai terjadi. Melalui kelas terapi khusus, ia dikenalkan pada terapi sensori integrasi dan terapi perilaku. Prosesnya tidak selalu mudah, ada saat-saat ia harus belajar menerima rangsangan dan aturan baru. Namun dengan pendampingan yang konsisten, tubuh dan pikirannya mulai beradaptasi.
Kini, ia tak lagi tertidur di sekolah. Malam hari pun menjadi lebih tenang, tidurnya semakin teratur. Sebuah langkah kecil yang berarti besar—tentang bagaimana dukungan, kesabaran, dan pemahaman mampu menghadirkan perubahan nyata.