- PROYEK SEKOLAH PEDULI
- PROYEK BUDIDAYA JAMUR
PROYEK SEKOLAH PEDULI
Program Edukasi dan Upaya Lingkungan Indah
SLB BC Putra Harapan Sragen
A. Latar Belakang
Lingkungan sekolah yang bersih dan hijau membantu siswa SLB belajar hidup mandiri, peduli, dan bertanggung jawab. Melalui kegiatan sederhana seperti membuat biopori, mengelola kompos, dan memilah botol bekas, siswa dapat belajar mencintai alam sesuai kemampuan masing-masing.
B. Tujuan
- Menumbuhkan sikap peduli lingkungan pada peserta didik.
- Melatih kemandirian dan tanggung jawab siswa SLB.
- Mengenalkan pengelolaan sampah organik dan anorganik.
- Menciptakan lingkungan sekolah yang bersih, hijau, dan sehat.
C. Sasaran
Seluruh peserta didik SLB BC Putra Harapan Sragen (disesuaikan dengan hambatan dan kemampuan masing-masing).
D. Waktu Pelaksanaan
1 semester / 3 bulan (berkelanjutan).
E. Bentuk Kegiatan Proyek
1. Proyek Biopori “Lubang Kehidupan”
Tujuan:
- Mengurangi genangan air
- Mengenalkan fungsi tanah dan air
Kegiatan:
- Guru mengenalkan biopori dengan gambar, benda nyata, dan praktik langsung
- Siswa membantu memasukkan daun kering ke lubang biopori
- Siswa menyiram dan merawat area biopori
Penyesuaian:
- Tuna netra: meraba alat dan tanah
- Tuna rungu: instruksi visual/isyarat
- Tuna grahita & autis: tugas sederhana dan berulang
- Tuna daksa: peran sesuai kemampuan fisik
2. Proyek Komposter “Sampah Jadi Berkah”
Tujuan:
- Mengolah sampah organik menjadi pupuk
- Melatih kebiasaan membuang sampah pada tempatnya
Kegiatan:
- Memilah sampah sisa makanan
- Memasukkan sampah ke komposter
- Mengaduk dan mengamati proses kompos
- Menggunakan kompos untuk tanaman sekolah
Penyesuaian:
- Aktivitas bertahap dan berulang
- Pengawasan guru dan pendamping
3. Proyek Tempat Botol Air Mineral Bekas
Tujuan:
- Mengurangi sampah plastik
- Mengajarkan daur ulang sederhana
Kegiatan:
- Mengumpulkan botol bekas dari kelas
- Memasukkan botol ke tempat khusus
- Menghias tempat botol bekas
- Menjual atau memanfaatkan botol untuk kerajinan
Penyesuaian:
- Warna dan simbol besar pada tempat botol
- Instruksi sederhana dan visual
F. Metode Pembelajaran
- Learning by Doing (belajar sambil praktik)
- Demonstrasi langsung
- Pembiasaan dan pengulangan
- Pendampingan intensif
G. Evaluasi
- Observasi sikap peduli lingkungan
- Partisipasi siswa dalam kegiatan
- Kemandirian siswa saat praktik
- Kebersihan lingkungan sekolah
H. Hasil yang Diharapkan
- Siswa terbiasa menjaga kebersihan lingkungan
- Sekolah memiliki biopori, komposter, dan tempat botol bekas aktif
- Terbentuk karakter cinta lingkungan sesuai kemampuan siswa
- Lingkungan sekolah menjadi lebih hijau dan sehat
PROYEK BUDIDAYA JAMUR TIRAM
PROGRAM KEWIRAUSAHAAN SISWA
SLB BC Putra Harapan Sragen
PROGRAM KEWIRAUSAHAAN SISWA
- Latar Belakang Masalah
Mengacu pada dasar hukum Permendikbudristek No 10.tahun 2025 tentang standar kelulusan, Pendidikan di Sekolah Luar Biasa (SLB) seringkali dihadapkan pada tantangan untuk menyediakan kurikulum yang tidak hanya mengakomodasi kebutuhan khusus peserta didik, tetapi juga relevan dengan dunia kerja. Kurikulum konvensional seringkali terlalu teoritis dan kurang memberikan kesempatan bagi peserta didik untuk menerapkan pengetahuan dalam konteks nyata. Di SLB BC Putra Harapan, peserta didik tunarungu dan tunagrahita membutuhkan pendekatan pembelajaran yang lebih konkret dan praktis agar mampu menyerap materi secara optimal.
Budidaya jamur tiram dipilih sebagai topik proyek karena beberapa alasan:
- Potensi ekonomi: Jamur tiram memiliki nilai jual yang tinggi dan permintaan pasar yang stabil, membuka peluang wirausaha bagi peserta didik.
- Aksesibilitas: Proses budidaya relatif sederhana dan tidak memerlukan modal besar atau lahan yang luas, sehingga dapat dilakukan di lingkungan sekolah.
- Integrasi mata pelajaran: Proyek ini memungkinkan integrasi berbagai mata pelajaran, seperti sains (biologi, ekologi), matematika (pengukuran, perhitungan biaya), dan keterampilan hidup (kewirausahaan, tanggung jawab).
- Pengembangan soft skills: Proyek ini mendorong kolaborasi, komunikasi, dan penyelesaian masalah, yang sangat penting untuk kemandirian peserta didik.
- Tujuan Penyusunan Program
Tujuan utama dari program ini diadakan di SLB BC Putra Harapan adalah:
- Meningkatkan kompetensi peserta didik dalam keterampilan budidaya jamur tiram.
- Mengembangkan kemampuan berpikir kritis, kolaborasi, tanggung jawab dan kreativitas melalui pendekatan proyek.
- Menciptakan lingkungan belajar yang inklusif dan bermakna yang relevan dengan kehidupan nyata peserta didik.
- Membekali peserta didik dengan keterampilan kewirausahaan agar siap menghadapi dunia kerja atau menciptakan lapangan kerja sendiri.
- Mengintegrasikan berbagai mata pelajaran ke dalam satu proyek yang komprehensif.
- Hasil yang Diharapkan
Setelah program ini diimplementasikan di SLB BC Putra Harapan , diharapkan:
- Siswa :
- Peserta didik mampu menguasai seluruh tahapan budidaya jamur tiram, dari persiapan media tanam hingga panen dan pemasaran.
- Terciptanya produk jamur tiram yang berkualitas dan memiliki nilai jual.
- Peserta didik menunjukkan peningkatan dalam keterampilan non-akademik (soft skills), seperti komunikasi, kerja sama tim, dan inisiatif.
- Terbangunnya budaya belajar yang mandiri, inovatif, dan berorientasi pada solusi.
- Tersedianya model pembelajaran yang dapat direplikasi untuk proyek-proyek lain di sekolah.
Guru:
- Guru memiliki pemahaman dan pengalaman dalam mengelola pembelajaran mendalam berbasis proyek.
- Guru mampu merancang dan mengimplementasikan modul pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan ABK.
- Sekolah:
Tersedianya kurikulum pembelajaran berbasis proyek yang inovatif dan terintegrasi.
Terciptanya budaya belajar yang kolaboratif dan aplikatif.
Adanya potensi produk unggulan sekolah yang dapat dijual untuk keberlanjutan program.
Serta terwujutnya Branding Sekolah, untuk membangun citra dan identitas positif serta unik di mata calon siswa, orang tua dan masyarakat luas, juga memperkuat kepercayaan publik.
1. Uraian Identifikasi Kebutuhan, Tantangan, dan Peluang
Kebutuhan:
- Kebutuhan peserta didik: Peserta didik membutuhkan metode pembelajaran yang visual dan kinestetik karena sebagian besar dari mereka memiliki gaya belajar yang berpusat pada praktik langsung. Mereka juga perlu diajari cara berkomunikasi non-verbal secara efektif.
- Kebutuhan guru: Guru memerlukan pelatihan tentang strategi pembelajaran mendalam dan manajemen proyek, serta cara memfasilitasi kelompok belajar yang beragam.
- Kebutuhan sarana dan prasarana: Diperlukan ruangan atau lahan khusus untuk kumbung (rumah jamur), peralatan budidaya dasar, dan bahan baku (bibit jamur, rak, penyiram).
Tantangan:
- Komunikasi: Keterbatasan komunikasi pada peserta didik tunarungu dan tunagrahita menjadi tantangan utama dalam instruksi. Solusinya, penggunaan isyarat, gambar, dan demonstrasi visual akan sangat membantu.
- Konsistensi: Memastikan peserta didik konsisten dalam perawatan jamur (penyiraman, pemantauan suhu) memerlukan pengawasan dan jadwal yang terstruktur.
- Sumber daya: Keterbatasan anggaran untuk pengadaan bahan baku dan peralatan awal.
Peluang:
- Dukungan orang tua: Banyak orang tua peserta didik yang antusias dan bersedia berpartisipasi dalam mendukung kegiatan sekolah.
- Kemitraan: Potensi untuk menjalin kemitraan dengan petani jamur lokal atau dinas pertanian untuk mendapatkan bimbingan dan pasokan bahan baku.
- Wirausaha sosial: Proyek ini dapat berkembang menjadi wirausaha sosial di mana hasil panen dapat dijual dan keuntungannya digunakan untuk keberlanjutan program atau keperluan sekolah lainnya.
Desain Strategi dan Program
Strategi Utama: Pembelajaran Berbasis Proyek (Project-Based Learning)
- Tahap 1: Pengenalan dan Perencanaan (Fase ‘Connect’ & ‘Challenge’)
- Kegiatan: Guru memperkenalkan konsep jamur tiram dan potensinya. Peserta didik diajak berdiskusi tentang manfaat dan tantangan budidaya. Mereka merumuskan pertanyaan kunci: “Bagaimana kita bisa membudidayakan jamur tiram di sekolah dan menjualnya?”
- Tahap 2: Implementasi (Fase ‘Create’ & ‘Deepen’)
- Kegiatan: Peserta didik dibagi dalam kelompok kecil. Setiap kelompok bertanggung jawab atas satu atau lebih tahapan:
- Kelompok A: Persiapan media dan tempat (Pembuatan rumah jamur, pembuatan Rak dan menata pesanan balog).
- Kelompok B: Pengisian media ke dalam baglog (kantong plastik khusus.
- Kegiatan: Peserta didik dibagi dalam kelompok kecil. Setiap kelompok bertanggung jawab atas satu atau lebih tahapan:
- Tahap 3: Panen dan Pemasaran (Fase ‘Communicate’ & ‘Demonstrate’)
- Kegiatan: Panen jamur, pengemasan, dan perhitungan harga jual. Peserta didik membuat label produk dan memasarkannya kepada warga sekolah, guru, dan orang tua. Mereka juga membuat laporan sederhana tentang proses dan hasil proyek.
Implementasi: Langkah-langkah/Tahapan Pengelolaan Pembelajaran Mendalam
- Pembentukan Tim Proyek: Menetapkan guru pembimbing, tim pendukung, dan membagi peran peserta didik.
- Orientasi dan Pelatihan: Guru mengikuti pelatihan singkat tentang budidaya jamur dan strategi pembelajaran berbasis proyek.
- Pengadaan Bahan dan Alat: Mengumpulkan serbuk gergaji, bibit jamur, kantong plastik, panci besar untuk sterilisasi, dan termometer.
- Pembangunan Kumbung: Gotong royong membangun atau memodifikasi ruangan yang sudah ada menjadi rumah jamur.
- Pelaksanaan Proyek: Melaksanakan seluruh tahapan budidaya sesuai dengan desain strategi di atas.
- Pendampingan Intensif: Guru mendampingi setiap kelompok secara rutin, memberikan umpan balik, dan mengatasi kendala yang muncul.
- Sesi Refleksi Harian/Mingguan: Guru mengadakan sesi singkat untuk menanyakan “Apa yang kita pelajari hari ini?” dan “Apa tantangan yang kita hadapi?”
Measure, Reflect and Change (Evaluasi Efektivitas Program)
Measure (Pengukuran):
- Aspek Pengetahuan & Keterampilan: Menggunakan lembar observasi untuk menilai kemampuan peserta didik dalam setiap tahapan budidaya.
- Aspek Afektif & Sosial: Menggunakan skala penilaian untuk mengukur peningkatan kolaborasi, inisiatif, dan komunikasi.
- Aspek Produk: Mengukur kuantitas dan kualitas jamur yang dihasilkan, serta profit yang didapatkan dari penjualan.
Reflect (Refleksi):
- Diskusi Kelompok: Guru dan peserta didik mengadakan diskusi terstruktur untuk membahas keberhasilan dan kegagalan. Contoh pertanyaan refleksi: “Apa bagian yang paling sulit dari proyek ini?” atau “Bagaimana kita bisa membuat produk kita lebih menarik?”
- Jurnal Belajar: Peserta didik didorong untuk membuat jurnal sederhana (bisa berupa gambar atau tulisan) tentang pengalaman mereka selama proyek.
- Pertemuan Guru: Guru mengadakan pertemuan rutin untuk mengevaluasi efektivitas metode dan strategi yang digunakan.
Change (Perbaikan Berkelanjutan):
- Kurikulum Fleksibel: Mengubah atau menyesuaikan tahapan proyek berdasarkan hasil evaluasi. Misalnya, jika kesulitan terbesar adalah sterilisasi, maka akan dibuat panduan visual yang lebih detail.
- Modifikasi Proyek: Jika proyek budidaya jamur berhasil, sekolah dapat mempertimbangkan proyek lanjutan, seperti membuat produk olahan dari jamur (nugget jamur, keripik jamur) untuk meningkatkan nilai jual.
- Peningkatan Kemitraan: Memperkuat hubungan dengan petani jamur atau pihak lain untuk mendapatkan dukungan teknis dan sumber daya yang lebih baik di masa depan.
SIMPULAN DAN SARAN
Simpulan
Program pembelajaran ini berhasil menunjukkan bahwa pendekatan pembelajaran mendalam berbasis proyek dapat menjadi metode yang sangat efektif untuk mengembangkan kreativitas dan kolaborasi siswa. Proyek budidaya jamur tiram (Anti Muram) tidak hanya memberikan pengetahuan praktis tentang biologi dan agribisnis, tetapi juga mendorong siswa untuk berpikir kritis, memecahkan masalah, dan bekerja sama dalam tim.
- Peningkatan Kreativitas: Melalui proyek ini, siswa didorong untuk mencari solusi inovatif dalam setiap tahap budidaya, mulai dari sterilisasi media tanam hingga pemasaran hasil panen. Mereka tidak hanya mengikuti instruksi, tetapi juga berinovasi, misalnya dalam desain kemasan atau strategi promosi.
- Peningkatan Kolaborasi: Proyek budidaya jamur tiram memerlukan kerja tim yang solid. Setiap anggota kelompok memiliki peran dan tanggung jawab yang jelas, sehingga mereka belajar untuk berkomunikasi secara efektif, menghargai kontribusi orang lain, dan menyelesaikan konflik. Keberhasilan proyek adalah hasil dari upaya kolektif.
- Pembelajaran Holistik: Program ini tidak hanya terfokus pada aspek akademis, tetapi juga mengembangkan keterampilan hidup (soft skills) yang penting, seperti tanggung jawab, ketekunan, dan jiwa kewirausahaan. Proyek ini membuktikan bahwa pembelajaran dapat menjadi pengalaman yang menyenangkan dan relevan dengan kehidupan nyata.
SARAN
Berdasarkan keberhasilan program ini, ada beberapa saran yang dapat diajukan untuk perbaikan dan pengembangan di masa depan:
- Kurikulum yang Terintegrasi: Sebaiknya program ini diintegrasikan lebih dalam ke dalam kurikulum sekolah, tidak hanya sebagai kegiatan ekstrakurikuler. Materi dapat dikaitkan dengan mata pelajaran lain seperti Biologi, Kimia, Ekonomi, dan Seni untuk menciptakan pengalaman belajar yang lebih komprehensif.
- Pendampingan Berkelanjutan: Pihak sekolah atau fasilitator perlu menyediakan pendampingan yang lebih intensif, terutama pada tahap awal proyek, untuk memastikan siswa tidak menghadapi hambatan yang signifikan. Pendampingan ini bisa berupa bimbingan teknis budidaya atau bimbingan dalam manajemen proyek.
- Perluasan Jangkauan Proyek: Proyek ini dapat diperluas dengan melibatkan komunitas lokal, seperti petani atau UMKM, sehingga siswa dapat belajar langsung dari praktisi. Hal ini juga dapat membuka peluang pemasaran yang lebih luas untuk produk jamur tiram mereka.
- Penggunaan Teknologi: Integrasikan teknologi dalam setiap tahapan proyek. Misalnya, gunakan aplikasi untuk memantau pertumbuhan jamur, media sosial untuk promosi, atau perangkat lunak desain grafis untuk membuat kemasan yang menarik. Ini akan membuat proyek lebih relevan dengan perkembangan zaman.
- Dokumentasi dan Publikasi: Hasil dari proyek ini, baik berupa proses maupun hasil akhir, perlu didokumentasikan dengan baik. Publikasikan dokumentasi ini melalui blog, video, atau jurnal internal sekolah untuk menginspirasi sekolah atau kelompok lain agar mengadopsi metode pembelajaran serupa.
Dengan menerapkan saran-saran di atas, program pembelajaran berbasis proyek seperti “Anti Muram” ini dapat menjadi model yang efektif untuk mencetak generasi yang tidak hanya cerdas secara akademis, tetapi juga kreatif, kolaboratif, dan siap menghadapi t